Senin, 16 Juni 2008

Sejenak Menjenguk Dunia Fotografi


for everyone

Setelah sekian lama bergelut dalam dunia fotografi amatir, meski sekedar hobi belaka dan juga impian untuk menjadi War Photographer seperti James Nachtwey, ada banyak filosofi fotografi yang menurut saya sangat bagus untuk diterapkan dalam kehidupan ini. Dimulai dengan kalimat sederhana yang berbunyi: “The Man Behind The Gun” yang secara istilah diartikan sebagai ungkapan bahwa yang paling penting dalam fotografi bukanlah alat (kamera) tapi orang (fotografer) yang memotret suatu peristiwa. Bagus tidaknya suatu foto tidak hanya tergantung pada kualitas gambar (warna, pencahayaan, titik fokus, dan lainnya) yang ditampilkan, tapi lebih pada pesan yang ingin disampaikan melalui foto tersebut. Dan pesan itu tidak dapat dihasilkan oleh kamera. Tapi hanya bisa dihasilkan oleh manusia dan keluarbiasaan imajinasi yang ada di dalam otaknya.

Kamera hanyalah alat yang merealisasikan ide atau gagasan spektakuler tersebut. Dan tidak berarti semakin canggih kamera atau semakin mahal maka seorang yang tak punya gagasan tentang suatu foto tiba-tiba bisa menghasilkan foto yang spektakuler. Kecanggihan kamera dan teknologinya hanyalah sesuatu yang membuat poses realisasi gagasan manusia menjadi lebih sederhana dan tak serumit pada zaman-zaman dahulu ketika pada masa-masa awal perkembangan kamera.

Tapi ada saja yang beranggapan bahwa tanpa kamera yang bagus ia merasa tidak PD atau bahkan merasa tidak dapat menghasilkan foto-foto spektakuler, sehingga ia akan menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli kamera dengan teknologi masa kini, padahal di lain pihak teknologi itu selalu berkembang pesat dan tak akan ada habisnya. Jika seseorang hanya mengikuti perkembangan teknologi semata. Maka akhirnya... ia tak akan pernah menghasilkan foto yang spektakuler seperti yang ia harapkan dengan kecanggihan kameranya, karena yang ia ikuti hanyalah teknologi bukan perkembangan fotografi itu sendiri.

Begitu banyak fakta sejarah fotografi telah membuktikan bagaimana seorang fotografer hanya berbekal kamera film lawas mampu menghasilkan foto-foto yang setiap orang memandangnya akan berdecak kagum, menangis, gemetar, marah, atau memunculkan ekspresi terdalam setiap yang melihat foto-foto tersebut. Dan begitu banyak pula orang yang mengaku dirinya fotografer dengan kamera tercanggih yang ia miliki hanya menghasilkan sedikit foto tanpa makna dan lebih banyak membiarkan kameranya tergantung tak ada guna.

Salah satu contoh bahwa fotografi itu bukan tentang alat, tapi tentang gagasan adalah foto-foto yang dihasilkan oleh seorang pemuda di Filipina yang mengupload foto-fotonya ke situs Flickr.com sehingga akhirnya jepretannya itu ditemukan oleh salah satu fotografer dan reviewer fotografi terkemuka dunia, Kenrock Well, dan mendapat pujian atas jepretan-jepretannya itu. Dan yang mencengangkan adalah pemuda itu memotret semua foto nan indah itu hanya dengan kamera di HP-nya yang resolusinya sangat kecil.

Fotografi itu adalah tentang gagasan, perasaan dalam hati, dan interaksi dengan objek foto. Maka Robert Capa mengatakan:
“If your picture aren’t good enough, that’s mean you’re not close enough”.
Dan memang foto-foto penuh pesan hanya dihasilkan ketika diambil dari kedekatan sang fotografer dengan objeknya. Bukankah setiap kita melihat foto-foto muslim palestina yang tengah ditindas oleh Israel maka marahlah kita? Itu semua dihasilkan karena sang fotografer memotret momen-momen dramatis tersebut secara dekat bahkan turut merasakan nuansa mencekam saat desingan peluru melintas di dekatnya, mencium bau amis darah, atau mendengar teriakan mereka. Itulah makna kedekatan.

Contoh lain adalah para fotografer wildlife di National Geographic. Mereka bukan fotografer sembarangan yang hanya sekedar berburu dari tempat satu ke tempat lainnya. Atau yang sekedar memotret sambil jalan-jalan di penjuru dunia kemudian saat malam tiba tinggal tidur di hotel-hotel yang nyaman. Bukan.

Mereka adalah sosok-sosok tangguh baik secara fisik maupun mental. Bahkan konon kabarnya setiap fotografer tersebut melatih kekuatan fisiknya untuk mampu bertahan hidup (survival) dalam alam liar yang ganas. Foto-foto menakjubkan yang dihasilkan mereka bukan dihasilkan dari sekedar memotret sejam dua jam, namun membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan momen yang pas. Salah satunya adalah edisi National Geographic yang menyajikan liputan tentang Gorilla di hutan belantara Congo, Afrika. Sang fotografer menunggu selama lebih dari 3 bulan di tempat yang sama hanya untuk mendapatkan foto seeokor gorilla tengah meminum air di sebuah mata air. Dan selama 3 bulan itu sang fotografer berada dalam tenda kecil yang dibangunnya di atas pohon. Bertemankan nyamuk-nyamuk ganas, diguyur hujan lebat, dan tak jarang didatangi tamu tak diundang seperti ular, macan pohon atau yang lebih parah adalah para gerilyawan anti pemerintah yang seringkali melintas untuk bersembunyi dari kejaran pasukan pemerintah.

Belum lagi fotografer lainnya yang mengabdikan dirinya di medan-medan ganas lainnya seperti kutub utara dan kedalaman samudera. Dan berkat merekalah, kita bisa membuka mata akan dunia kita. Seperti halnya para War Photographer di medan perang yang tak jarang hidup merekalah taruhannya.

Namun tak ayalnya seperti kehidupan lainnya yang selalu berpasang-pasangan. Jika ada sisi positif, tentu ada sisi negatif dari dunia fotografi ini. Istilah paparazi tentunya cukup mewakili sisi negatif fotografi. Dan salah satu peristiwa akbar yang menandainya adalah tewasnya Putri Diana dan rombongannya yang disinyalir bermula dari usaha menghindari kejaran fotografer yang ingin mencari berita sensasi. Jenis fotografer ini termasuk ke dalam fotografer jurnalistik, meski banyak juga fotografer lainnya tak menyukai tipe fotografer paparazi ini. Mereka mencari foto untuk menghasilkan uang banyak dan juga sensasi dalam waktu singkat dengan berbagai cara, meskipun itu tidak halal.

Atau juga fotografer yang sengaja membuat publik terpengaruh dengan foto-foto palsu hasil manipulasi. Bagaimana bisa? Tentu dengan bantuan kecanggihan teknologi saat ini, hal itu adalah mudah. Contohnya, bagaimana dalam salah satu peristiwa beberapa tentara Amerika yang pada kenyataannya begitu kejam memperlakukan seorang gadis di Irak, memperkosanya, membunuh, kemudian membakar tubuhnya (Sumber: rekaman pengakuan salah satu pelaku di Youtube.com). Namun tetap saja di internet dijumpai banyak situs yang memperlihatkan para tentara Amerika terlihat begitu gagah bak pahlawan perang di negeri 1001 malam itu. Atau foto yang memperlihatkan pemuda-pemuda Palestina yang tengah melempari batu ke arah tentara Israel dengan tulisan di bawahnya:

”No wonder they will grow to be an extremist and Terorist, this is their Childhood”.
Sehingga membuat banyak orang berpikiran negatif terhadap mereka padahal... tak seperti itu kenyataannya.

Tak ada yang mustahil dengan olah digital saat ini. Lha wong foto seseorang melayang di udara saja bisa saja dibuat dengan manipulasi. Maka tak heran apabila banyak orang tertipu dengan berita-berita kebohongan tersebut. Apalagi jika fotografi telah dijadikan alat propaganda oleh suatu organisasi. Namanya juga manusia, selalu saja ada kelemahannya, begitu juga fotografer.

Tapi tentunya sebagai komunitas dan bangsa yang besar, Islam harus mampu mengimbangi semua itu. Dan dimulai dengan kemampuan setiap muslim dalam menyikapi semua berita dengan tenang dan pikiran yang jernih. Atau dengan cara-cara lain yang ahsan (baik). Bahkan tidak menutup kemungkinan dengan melahirkan fotografer muslim yang mampu merekam tiap peristiwa itu dengan penuh kejujuran agar dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Demikian... kilasan kilat tentang menakjubkannya dunia fotografi yang saya terjuni karena bermula dari hobi ini. Dan tentunya masih banyak hal-hal luar biasa lainnya dalam dunia ini yang tak bisa saya ceritakan saat ini namun bisa kita lihat sendiri.

“Tiap detik adalah sesuatu yang istimewa, dan tak akan terulang. Itulah mengapa fotografer ada. Mengabadikan detik-detik istimewa itu agar bisa diingat kembali”

-pembuatjejak- sumber: internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar